tentang harapan.

Resuffle yang dilakukan oleh pemerintah membawa beragam komentar. Ada yang optimis, ada yang tidak peduli asal hasilnya terlihat, namun mayoritas bersikap apatis. Bahwa resuffle ini dilakukan semata-mata hanya untuk menenangkan rakyatnya saja, itu anggapan kelompok yang apatis. Mungkin mereka tidak salah. Walaupun yang masih buta huruf masih banyak, tapi mereka belajar. Belajar apa itu arti kata resuffle, bukan dari kamus, bukan, tapi dari dampak yang ditimbulkan olehnya. Ketika ditanya mengenai resuffle, variasi respon yang keluar adalah:

gak ngaruh, neng. muter-muter aja disitu-situ juga.

dia kan orang politik. mana ngerti tentang macem-macemnya negara. mana peduli sama rakyatnya.

bapak yang di atas kurang tegas, coba diambil orang-orang yang ngerti banget masalahnya. nah orang-orang itu yang dijadikan menteri. diambil karena mampu.

yah kita sih terima hasil, neng. kalau berhasil ya bagus.

Obrolan macam ini bukan dilakukan di gedung-gedung tinggi perkotaan ibu kota. Bukan. Obrolan ini terjadi dengan supir angkot, satpam-satpam, warung kopi, dan lain-lainnya. Iya, rakyat belajar. Terlalu banyak media yang bias saat ini membuat rakyat semakin ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Masing-masing berdiskusi. Gak peduli dengan siapa, asal bisa mendapatkan sedikit pengetahuan tentang suatu masalah, mereka senang. Mereka belajar. Belajar mengkritik, belajar berpendapat, dan belajar beramai-ramai mendiskusikan harusnya-seperti-apa. Hasil obrolan-obrolan ini menarik sekali. Opini dan alternatif solusi dari rakyat seperti ini menarik untuk disimak. Ada yang lempeng-lempeng aja, ada yang nyeleneh, tapi semuanya diungkapkan dalam bahasa yang mudah dimengerti, masih dengan pola pikir yang sederhana.

Mungkin yang masih mahasiswa, masih ingat dengan kata mahasiswa sebagai si pembawa perubahan, mahasiswa sebagai penjaga nilai, dan lain sebagainya. Harapan-harapan rakyat-rakyat kecil yang kurang beruntung, tidak mendapatkan pendidikan yang layak mungkin sudah sering didengar. Bahwa pemimpin seharusnya begini-begitu, bahwa rakyat seharusnya diperhatikan, bahwa mahasiswa seharusnya membawa gerakan. Di satu sesi malah saya pernah menemukan seorang bapak-bapak yang sudah sangat putus asa sampai dia mengatakan “apa yang neng suruh, saya lakukan. Mau demo? ayok. saya kumpulin orang-orang sekampung, neng. masih kurang? saya bisa ajak se RW.”

Disatu kuliah yang membahas tentang visi, dosen saya berkata:

18 tahun dari sekarang saat kalian menjadi ‘seseorang’ Indonesia akan maju! Saya yakin itu, sangat. Saya yakin asal kalian juga punya keyakinan dan penglihatan ke depan.

Bukan cuma rakyat kecil, para intelektual juga berpikiran demikian. Harapan. Sebagai rakyat yang gak pernah bertemu langsung dengan presiden, cuma bisa berharap. Dan berharap harapannya diteruskan hingga sampai ke petinggi-petinggi sana.

Tulisan sebagai pengingat untuk diri saya sendiri. Syukur-syukur ada yang berpikiran sama dan melakukan gerakan yang massive.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

One thought on “tentang harapan.

  1. Semangat nak amy, semoga nak amy kelak bisa menjadi orang-orang elit yang benar-benar elit. Tahu seperti apa kebenan, dan tahu cara menyampaikan kebenaran.

    Saat ini mungkin nak amy belum bisa berbuat apa-apa. Tapi mungkin ketika kami yang tua-tua ini sudah lengser. Segala apa yg dikatakan nak amy akan diuji. Semoga ketika saat itu tiba, nak amy masih beserta Tuhan, terlebih lagi kalau nak amy sudah jadi kekasih Tuhan.. insyaAllah semua tindakan nak amy akan bersumber dari perintah Tuhan.

    Salam, Lanjutkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s