super galau 2011.

Dulu, sewaktu masuk perguruan tinggi ini, dilakukan penarikan janji mahasiswa yang berbunyi:

Kami,
Segenap mahasiswa Institut Teknologi Bandung
Demi Ibu Pertiwi, berjanji
akan menuntut ilmu,
keterampilan dan watak penghayatan
dengan ketekunan dan kesadaran
bagi kesejahteraan Bangsa Indonesia
Peri kemanusiaan dan peradaban
berdasarkan Pancasila

Kami berjanji,
akan menegakkan dan menjunjung tinggi
kejujuran dan keluhuran pendidikan
serta susila mahasiswa

Kami berjanji,
akan setia pada almamater
Institut Teknologi Bandung
serta bangsa dan negara kami,
Republik Indonesia

Demi itu kami mohon, Tuhanku..
rahmat dan tuntunan-Mu.

Kemudian setelah lulus pun, dilakukan pula penarikan ikrar mahasiswa yang berbunyi:

Kami, mahasiswa Istitut Teknologi Bandung
Sadar, bahwa kami hanyalah sebagian kecil dari rakyat Indonesia
yang berkesempatan untuk menikmati pendidikan atas beban rakyat Indonesia
Sadar, bahwa kami dituntut untuk berperan
dalam perbaikan dan pembaharuan masyarakat Indonesia
Sadar, bahwa pada pundak kami ini tertumpu harapan masa depan Indonesia

Karenanya:
Kami tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri,
harus mendahulukan kebutuhan masyarakat.
Kami tidak akan menunda-nunda tindakan kami
untuk berperan dan membuat perubahan mulai dari diri kami sendiri.
Kami akan bekerja keras untuk mewujudkan
harapan rakyat bangsa dan negara Indonesia
serta almamater Institut Teknologi Bandung.

Ikrar ini segera kami buktikan,
dalam tindakan nyata dari kami.

Semakin dibaca, dikumandangkan, dan didengar semakin membuat saya galau sejujurnya. Agent of change, itu katanya mahasiswa yang diwajibkan menjunjung tinggi Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pembelajaran, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Saya sendiri mengasumsikan bahwa untuk menjadi mahasiswa itu pertama harus belajar, setelah itu dilakukan penelitian dan hasilnya dapat bermanfaat langsung kepada masyarakat. Itu sumbangsih untuk poin pengabdian masyarakat. Itu asumsi saya, dulu.

Masalah hadir ketika saya berminat untuk mengembangkan sistem informasi kesehatan di Puskesmas atau Posyandu (baca postingan sebelumnya ya). Saya bertanya dan berdiskusi dengan Professor yang berkecimpung di bidang itu. Professor saya berkata seperti ini:

Sistem ini sebenarnya sangat kita butuhkan untuk diterapkan di Puskesmas. Memang mungkin terlihat sederhana ya, tapi coba bandingkan lagi rasio pasien-dokter-petugas yang terdapat di Puskesmas. Jangan dikira juga setelah jam 12 siang mereka santai karena Puskesmas tutup. Kantor memang tutup, tapi di dalamnya mereka kembali bekerja. Mereka masih harus mengirimkan dokumen-dokumen tersebut ke dinas, belum lagi kalau ada Puskesmas Keliling.

Saya tertarik. Jujur. Motivasi saya fast track adalah ini. Saya seperti menemukan passion dan seperti berujar dalam hati,

This is it! Ini yang saya cari.”

Saya menjadikan Fast track sebagai cara saya untuk dapat mengenal lebih dalam mengenai sistem kesehatan masyarakat di Indonesia. Lalu saya kembali berdiskusi sembari menyatakan bahwa saya tertarik dengan topik penelitian ini. Dan professor saya itu berkata,

Sebenarnya bisa saja. Tapi saya tidak tahu apakah ini bisa dijadikan thesis atau tidak. Kalau saya jadi pimpinan, saya bilang ini layak. Tapi untuk di Indonesia sendiri hal seperti ini kurang diminati. Dianggap terlalu mudah, padahal mudah pun buktinya tidak ada yang mengerjakan toh sampai sekarang?

Kemudian beliau menambahkan,

Secara umum, ini murni amal. Kita melakukan pengabdian kepada masyarakat sekitar dan manfaatnya langsung dapat terasa. Puskesmas bukan ladang uang, kadang kita yang harus nombokkin. Tapi saya percaya rejeki itu datangnya dari mana saja, lewat mana saja. Anda tahu, saya memasukkan proposan bantuan dana ke Dikti tapi mereka tidak tertarik. Akhirnya saya justru dihubungi oleh pemerintah Amerika Serikat yang menyatakan tertarik untuk memberikan dana bantuan yang sangat besar untuk menyelesaikan ini semua. Mereka tertarik karena menurut mereka kesehatan komunitas seperti ini penting. Apalagi ada MDG’s (Millenium Development Goals, search ya :]) yang harus kita selesaikan sebelum jangka waktunya habis.

Saya pernah dengar, tugas akhir sarjana (S1) itu hanyalah sebatas pembuktian teori saja, S2 memanfaatkan teori itu untuk membuat suatu alat atau instrumen, sedangkan S3 itu menemukan teorinya yang belum pernah ditemukan dan dipakai sebelumnya. Itu yang saya tahu mengenai perbedaan jenjang S1 sampai S3. Tapi justru ini pula yang membedakan lulusan luar negeri dan lulusan dalam negeri kita.

Di luar negeri sana, batasan ini jelas. Ketika misalnya mahasiswa undregraduate (S1) dinilai mampu dan Final Project-nya dinilai sudah bisa dikategorikan sebagai karya S3, maka dari S1 tersebut dia ‘loncat’ langsung S3. Hanya perlu memperbanyak publikasi ilmiah saja. Mahasiswa mempunyai gelar S3 karena memang dia berkapasitas sebagai mahasiswa S3 dan terbukti mampu! Begitu pula dengan gelar yang lainnya.

Di Indonesia, saya tidak tahu untuk Perguruan Tinggi Swasta, tapi yang saya tahu pasti hal in tidak terjadi di PTN. Untuk mencapai S2 atau S3, wajib hukumnya bagi mahasiswa itu untuk kuliah lagi. Dan Tugas Akhir yang sesulit apapun tetap saja gelarnya sama, SARJANA. Gak ada beda. Sarjana yang makin kesini semakin dikenal sebagai ‘pekerja’ atau ‘buruh intelek’. Walaupun kualitas dan kualifikasi seorang sarjana pun berbeda antara universitas yang satu dengan yang lainnya, tetap saja ketika masuk dunia kerja, pukul rata dengan julukan “sama-sama sarjana”.

Senior saya, telah memenangkan kontes robot dunia dan meraih juara algoritma terbaik tetap saja lulus dengan gelar yang sama. Padahal karyanya, dunia pun sudah mengakui. Dia mengembangkan algoritma tersebut lebih dari 2,5 tahun. Ph.D bukanlah gelar yang sia-sia untuk orang hebat macam ini. Bayangkan kalau nantinya dia kerja dan disamaratakan dengan yang lainnya. Sungguh kemampuan yang disia-siakan. Untungnya dia meneruskan sekolah lagi.

Ini beda signifikannya. Memang harus diakui bahwa ada yang salah dengan sistem pendidikan kita ini.

Teman saya, seorang mahasiswa S3 yang sedang mengerjakan disertasi, dalam keberjalanannya dia tertarik kepada Puskesmas ini. Community Health Service. Dan seperti pada kasus saya, apa yang ia kerjakan itu dinilai tidak layak disertasi, tidak peduli kalau manfaatnya sungguh-sungguh besar bagi masyarakat sekitar. Coba perhatikan kembali ikrar mahasiswa di atas, masihkah relevan? Saat ini, dia sudah menerima ‘surat cinta’ yang berisi anjuran untuk segera menyelesaikan penelitiannya. Kalau tidak, silakan meninggalkan kampus dengan segera.

Suatu waktu, dia berkata seperti ini:

Dia: Kalau begini lebih baik saya lepas S3, my.

Saya: Loh kenapa, mas? Gak sayang? Kan tinggal dikit lagiii..

Dia: Gak my, lebih tertarik ini.

Saya: Emang topik disertasinya beda?

Dia: Bedaa. Beda banget, my.

Saya: Beneran gak sayang, mas?

Dia: Coba aja kamu pikir untung ruginya. Itung2an yuk sekarang. Kalau saya berhenti S3, apa kira2 ruginya?

Saya: Uang, mas.

Dia: Oke, uang. Apa lagi?

Saya: Tanggung jawab, mas.

Dia: Selain uang dan tanggung jawab ke orang tua trus palingan sama rasa malu karena gak lulus S3, tapi itu sih sebodo teuing. Ada lagi kah?

Saya: Hmm..

Dia: Coba kalau saya quit program Puskesmas ini, siapa yang rugi? Banyakan mana?

Saya: *hening* *sambil angguk-angguk kepala*

Dalam hati saya membenarkan. Balik lagi ke janji dan ikrar mahasiswa. Disitu tidak tertulis untuk masyarakat dunia. Namun jelas tertulis berkali-kali untuk masyarakat Indonesia. Ya Allah, demi Tuhan, bangsa, dan almamater saat ini saya galau. Segalau itu! =”(

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

3 thoughts on “super galau 2011.

  1. maksudnya gimana My, mau ganti topik tesis dari mikroskop hologram ke sistem informasi Puskesmas tapi nggak boleh?

    Tapi bener sih, topik yang Puskesmas itu lebih jelas manfaatnya buat masyarakat…

    Semangat My! :)

  2. Bukan ai, gak eksplisit dibilangin gt sih. Cuma mereka gak yakin kalo penelitian dan pengembangan sistem informasi kesehatan Puskesmas ini bisa disejajarkan dengan thesis. Terlalu sederhana katanya. Gw sih nangkepnya kalo thesis itu high tech gt. Tapi kerasa langsung manfaatnya jg nggak. TA selesai pun biasanya dilupain aja kan, jd arsip. Kecuali kalo ada penelitian berkelanjutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s