wajah stereotype?

Apakah ada yang namanya wajah stereotype? Pengklasifikasian wajah seseorang yang akan menentukan apakah dia orang Asia, Eropa, Amerika, Afrika, atau Australia. Mungkin ada ya, tapi tidak secara eksplisit. Semua pasti berdasarkan pengalaman. Misal, karena saya pernah bertemu dengan banyak orang Jepang, Korea, dan Cina saya jadi bisa membedakan apakah orang itu keturunan Korea, Jepang, atau Cina. Tapi kalau saya belum pernah bertemu dengan orang-orang tersebut pasti saya gak akan bisa membedakan. Cuma bisa meraba-raba, “kira-kira orang Asia Timur”.

Ada satu hal yang menarik hari ini, sewaktu saya mengikuti seminar ICEEI (International Conference of Electrical Engineering and Informatics) 2011. Sebelum sesi saya dimulai, saya menyempatkan diri untuk mampir ke sesinya si Abhe. Disana, setelah giliran Abhe selesai tibalah giliran presenter berikutnya. Biasanya, karena ini adalah konferensi internasional, maka presenternya diminta untuk membawakan presentasi dalam bahasa Inggris. Namun, karena moderatornya melihat bahwa sekiranya tidak ada orang di ruangan tersebut selain orang Indonesia, maka moderator mempersilahkan presenter untuk memilih menyampaikan presentasi dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Si presenter memilih bahasa Indonesia. Bagian yang menarik adalah ketika presentasi itu setengah berjalan, kemudian moderatornya bertanya kepada saya (langsung menunjuk),

“I’m sorry, can you speak Indonesian?”

Saya yang kaget tiba-tiba ditanya pertanyaan seperti itu ditengah jalannya presentasi hanya bisa menjawab,

“YES.”

“Oh OK, I’m afraid you can’t speak Indonesia. Thank God, you speak Indonesia. Kalau ada yang gak ngerti bahasa Indonesia berarti harus diganti presentasinya pakai bahasa Inggris.”

Dan saya yang merasa wajah saya jelassss banget Indonesia-Indonesianya cuma bengong heran. Hellooooo. Ini muka asli Indonesia loh. Walaupun adalah campuran Cina, Hongkong, dan Amerikanya kalau ditelusurin sampe kakek buyut. Tapi itu kan cuma sepersekian ribu mungkin, kecil bangetttt. Keluar dari ruangan langsung mampir ke kamar mandi buat ngaca. Masih normal. Gak ada yang aneh.

Saya teringat dulu waktu menemani Ayah kongres ke Perancis dan Spanyol juga ada kejadian menarik. Biasalah ya walaupun judulnya ‘menemani’ tapi pasti ujung2nya belanja, nyobain makanan baru, dan jalan-jalan keliling negara tersebut di saat si Ayah duduk manis mendengarkan orang bicara atau malahan sibuk bikin slide untuk presentasi. Nah sewaktu di Paris, dasar emang norak pengen banget naik sampe ke atasnya Menara Eiffel. Akhirnya antrilah buat beli tiketnya. Antriannya rapih dan berdekatan antara depan dan belakang sampai bisa mendengar yang depan bicara apa aja dan informasi apa aja yang dikasih sama si penjual tiket. Di depan saya persis orang Amerika (gak tau pastinya tapi dia bicara bahasa Inggris dengan logat Amerika). Sesampainya dia di depan loket dilayani menggunakan bahasa Inggris oleh si penjual tiket. Kemudian ketika sampai giliran saya, jeger. Dia bicara bahasa Perancis. Dari mulai nanya berapa orang, ada anak kecil atau nggak, etcetera etcetera. Wew. Jelas sekali dia bicara bahasa Perancis bukan karena dia tidak bisa bicara bahasa Inggris karena sebelumnya dilayani dengan bahasa Inggris atau tidak mungkin juga karena malas secara itu pekerjaannya sehari-hari. Mau minta dia ganti bahasa Inggris juga susah karena antrian begitu panjang dan orang-orang di belakang sudah tidak sabar untuk masuk. Beruntung mengerti sedikit-sedikit bahasa Perancis. Sampai disini masih selamat.

Berikutnya adalah ke Spanyol. Barcelona dan Madrid. Pengalaman yang sama. Mengantri untuk membayar belanjaan di kasir. Orang yang mengantri di depan saya diberitahu jumlah belanjaan dengan bahasa Inggris. Giliran sampai ke saya, dia melihat muka saya sebentar kemudian mengucapkan angka Euro dalam bahasa Spanyol. Krauk. Melihat muka saya kebingungan, dia kemudian menunjuk papan angka di mesin kasir. Mungkin dia mengira saya tidak mendengar yang dia sebutkan bukan tidak mengerti. Dan ini selalu berulang. Padahal selama saya di Spanyol kata yang saya bisa cuma “si”, “uno”, “dos”, dan angka2 satuan lainnya hasil dari nemenin adik yang paling kecil nonton Dora the Explorer jaman dulu banget.

Kejadian hari ini membuat saya semakin bertanya-tanya. Sebenernya ada gak sih muka ‘Indonesia’? Atau dianggap bisa masuk ke banyak negara? Sebenernya antara senang dan sedih dianggap penduduk negara sana ketika kita berkunjung ke negara tersebut. Senang karena berarti kita dianggap bisa berbaur dengan kebudayaan sana dalam waktu singkat padahal. Terbukti dengan ajakan untuk berbicara dengan bahasa ibu mereka di saat yang lain tidak. Sedih karena kok sepertinya kita tidak punya ciri khas. Seperti tidak ada sesuatu yang melekat khusus yang akan melabeli kita orang mana. Hmm, semoga apa pun namanya kemampuan ini akan selalu menjadi keberuntungan bila saya berkunjung ke negara-negara manapun. Hehe. Ayo keliling dunia!!!

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s