“ini ef bukan ve”

Saya pernah dengar bahwa anak yang dibesarkan dengan latar belakang keluarga yang berasal dari daerah Sunda atau tinggal di daerah tersebut akan lebih sulit membedakan “F” (ef) dan “V” (ve) daripada anak-anak daerah lain. Saya dibesarkan dalam keluarga yang berlatar belakang sunda. Tapi saya bersyukur tinggal di Jakarta. Setidaknya saya masih dapat membedakan EF dan VE tersebut dengan sangat baik dan cepat. Hehe.

Suatu waktu, saat saya mengajar di SKHOLE, sebuah gerakan mengajar secara sukarela di daerah dekat kampus, saya belajar bahwa mengajari anak-anak ini untuk membedakan huruf “F”dan “V” bukan merupakan pekerjaan yang mudah.

Mereka sebenarnya adalah anak-anak yang cerdas. Mereka dapat serta merta menangkap pelajaran. Dari mulai berhitung sampai menjawab pertanyaan. Oh, dan mereka pandai mengaji. Ya kalaupun ada kelemahan mereka itu saya anggap normal sesuai dengan umur mereka masing-masing.

Saat itu saya ditugaskan untuk mengajar kelas 1 SD. Anak-anak yang datang berjumlah 4 orang. Semuanya perempuan. Walaupun ada 1 orang anak yang saya tidak yakin kelas berapa ia semestinya karena setiap saya datang ia selalu pindah ke kelompok yang saya ajar. Entah itu saya sedang mengajar kelas 1, 2, 3, bahkan TK sekalipun. Cerita tentang perempuan kecil unik ini akan diceritakan dalam postingan terpisah. Seperti biasa, pertama-tama karena mereka belum lancar mengeja dan menulis maka sebagai pembukaan kita bernyanyi lagu ‘A B C’. Mereka hapal dan bernyanyi dengan keras. Kemudian untuk memperkenalkan huruf-huruf abjad, saya menuliskannya dalam sebuah kertas. Lengkap dari mulai huruf kapital sampai huruf kecilnya. Setelah itu saya melakukan tebak-tebakan. Siapa yang bisa menebak huruf yang saya tunjuk dengan benar dia menang. Dan semuanya menang. Mereka tahu huruf apa saja yang saya tunjuk.

Sampai bagian ini saya masih tersenyum.

Lanjut ke bagian selanjutnya. Setelah mereka berhasil bernyanyi, mengeja, dan membaca, sekarang saatnya menulis. Pada bagian ini saya harus menghela napas. Tidak terlalu mudah ternyata. Kesulitan utama mereka adalah di huruf-huruf berikut ini, mungkin akan membantu bila sekiranya teman-teman ada yang akan mengajar kelas kecil seperti ini:

  • b dengan d
  • t, f, s, c, j yang selalu terbalik seperti pencerminan
  • f dengan v

Dua teratas masih dapat dibenarkan secara cepat dan dimengerti oleh semua anak dengan perumpamaan macam-macam. Namun di poin terakhir itu yang sedikit sulit.

Saya: Ayo sekarang kita tulis sama-sama yuk. Sekarang giliran huruuuuuffffff “Ve”. Ayo gimana coba?

Mereka: Selesai, kak! Kayak gini kaannn *sambil nyengir lebar*

Saya: *melihat ke kertas yang berisis huruf ‘F’ besar*. Oh bukan, itu ”ef”. Ayo gimana coba ‘Ve’?

Mereka: *pandangpandangan*. Tapi ini ve, kak.

Dan kejadian itu terus berulang. Sekali mereka berhasil tapi ketika diberikan selingan huruf lain dan kembali ke huruf ‘ve’ atau ‘ef’ lagi mereka bingung.

Masih harus latihan. Banyak. Untuk saya juga. Haha. Gimana ya caranya mengajar ‘ve’ dan ‘ef’ dengan benar? Ada ide?

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s