pemimpin, sebuah urgensitas?

Membaca CEO wisdom karangan A.M. Lilik Agung membuka mata dan pikiran saya lebar-lebar, tentang bangaimana seharusnya seorang pemimpin itu bertindak dan menghadapi segala sesuatunya. Bahwasanya pemimpin adalah ujung tombak dari perusahaan atau orang yang di’maju’kan lebih dulu bila terjadi masalah adalah benar adanya.

Adalah Akio Toyoda, generasi kedua dari perusahaan otomotif ternama di dunia, Toyota yang menginspirasi saya. Sejarah mencatat bahwa Toyota pernah mengalami kerugian besar secara moral dan materiil karena harus menarik kembali produknya sebanyak 2,3 juta unit di seluruh dunia untuk diperbaiki kembali lantaran pedal gas yang bermasalah.

Alih-alih melakukan pembelaan dan menyewa pengacara terkenal, Akio Toyoda malah mendatangi senat Amerika khusus untuk meminta maaf. Hal yang sama juga dilakukan kepada China.

Beliau pun langsung mengadakan “Rapat Mendesak untuk Semua Karyawan Toyota: Menuju Awal Baru Toyota”. Berikut penggalan isi pidatonya :

Hari ini begitu indah. Mari kita songsong hari nan indah ini dengan semangat baru, optimis baru, percaya diri nan besar dengan tetap membawa nilai-nilai Toyota bernama rendah hati dan perbaikan terus menerus. Kita membuat permulaan baru untuk kejayaan perusahaan kita

Kalimat per kalimat diucapkan dengan penuh karisma dan kepercayaan diri yang tinggi bahwa perusahaannya akan mampu menaikkan kembali reputasinya. Dan terbukti. Ada 4 pedoman dari toyota way ini yang lazim disebut 4P, yaitu Philosophy, Process, People & Partner, dan Problem Solving. Keempatnya ini hanya mampu dilakukan apabila mendapat dasar kokoh yang bernama kejujuran.

Saya menyukai optimisme Akio Toyoda dan caranya membangun integritas serta kredibilitas perusahaannya dengan tetap menjaga hubungan baik dengan karyawannya. Jujur. Adil. Bijak. Mau mendengar. Berpikiran ke depan. Mau menghargai. Kompeten. Menginspirasi.

Pemimpin. Ya, pemimpin. Figur seperti ini yang dibutuhkan oleh negara ini. Saat ini, kebutuhan akan pemimpin telah menjadi urgensi yang diraung-raungkan. Entah itu di PSSI, di daerah, bahkan untuk jabatan Presiden republik Indonesia sekali pun. Rindu kepemimpinan, rindu pengobar semangat, rindu pembela rakyat. Rindu ber-dialog bukan monolog. Nampaknya pemimpin saat ini sekali pun perlu belajar dari para pemimpin perusahaan-perusahaan ternama yang berhasil mempertahankan dan menunjukkan keeksistensiannya sampai saat ini. Setidaknya mereka telah berhasil, untuk perusahaannya sendiri.

=)

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s