3 tahun sudah

Bukan umur pertemanan saya dengan beberapa orang. Bukan, bukan itu.

Lamanya saya kuliah? Bukan juga. Saya sudah 3,5 tahun kuliah. Saat ini siap-siap memasuki semester 8. Jadi stengah tahun lebih lama dari judul postingan blog ini.

Jadi 3 tahun apa?

Pada tanggal ini, tepat 3 tahun yang lalu, 26 Desember 2007 saya memutuskan untuk mengenakan jilbab. Veil kalau orang-orang sana sih bilangnya. Dengan mengucap kata Bismillah dan La haula wala quwwata illa billah. Saya memakai jilbab.

Kalau kalian sempat sebelumnya baca cerita saya disini, pasti paham kalau saya dibesarkan dalam keluarga seperti apa. Multi ras dan multi agama. Sewaktu saya mengenakan jilbab saya memikirkan ini. Apa ya sekiranya reaksi mereka? Bagaimana saya harus bersikap ya dihadapan mereka? Toleransi sih toleransi. Tinggi malah. Tapi ya namanya tekanan mah pasti selalu ada.

Kemudian saya ingat perkataan seorang perempuan yang lebih tua dari saya dan sudah saya anggap seperti saudara saya sendiri. Katanya, “Coba deh kamu jalan-jalan ketempat ramai,my. Pake jilbab itu. Mbak jamin gak ada yang terlalu peduli. Maka itu, orang lain aja gak peduli. Itu lazim kok. Gak ada yang aneh. Jadi kamu juga jangan peduli2 amat yah. Cuek aja. It’s worth to try actually”.

Dia, kakak itu, pernah mengalami tekanan yang lebih berat di negaranya sana. Negeri sakura. Dan berbekal dengan pikiran “Dia bisa knapa saya gak bisa, padahal lingkungan saya lebih welcome. Kalo gak bisa berarti saya cupu.” Jadilah ini pada awalnya sebagai pembuktian ke diri saya sendiri. Melawan rasa takut dalam diri sendiri. Mungkin akan lain ceritanya bila saya dibesarkan dalam lingkungan agamis, santri, pesantren dan semacamnya. Namun, sekali lagi, ini lingkungan saya.

Selama 3 tahun ini, saya telah mengunjungi banyak tempat. Banyak negara. Dengan bermacam-macam bentuk ‘penerimaan’. Ada yang antipati. Ada yang cuek gak peduli. Ada yang ramah sekali. Ada yang mencemooh. Ada yang takjub melihat dari atas ke bawah. Semua jenis pandangan pernah saya lihat dan saya terima. Saya sangat bersyukur karenanya.

Saya masih ingat sewaktu saya menemani bapak saya kongres di luar negeri. Dia datang sebagai pembicara. Namun karena bapak saya boleh dikatakan sakit, ia tidak diperbolehkan pergi sendirian. Apalagi kalau naik pesawat dan memakan waktu yang tidak sebentar. Alhasil, kami anak-anaknya bergantian menemani bapak mengerjakan tugasnya. Tibalah saya ke Barcelona, Spanyol. Saya terkesima, asli ganteng-ganteng bulenya (bukan ini sebenarnya yang mau dibahas). Haha. Ketika saya jalan di main avenue-nya saya masih ingat di pojokan itu ada McD. McD pun dijaga oleh satpam dan ketika saya masuk, satpam itu membukakan pintu dan mengucap Assalamuaikum sembari tersenyum ramah.

Kemudian ketika saya berjalan menyusuri pasarnya seorang diri, saya terbiasa untuk berjalan dengan fokus ke arah yang saya akan lihat misalnya toko-toko. Saya punya kebiasaan tidak terlalu memperhatikan orang yang berjalan, apalagi di negeri asing begini. Who do you expect to meet then? Tapi saya kembali terkejut, berkali-kali. Ada banyak perempuan tersenyum ramah dan mengucap Assalamualaikum, sama dengan si satpam McD tadi. Kemudian ada laki-laki yang juga menyapa dengan Assalamualaikum.

Dan saya kembali bersyukur. Dengan mengenakan kain jilbab ini, saya dikenali. Padahal kalau boleh dikatakan, saya sendiri sempat merasa aneh, berada di antara berbagai macam orang di luar negeri sendiri dengan metode berpakaian yang pastinya kalian tau seperti apa. Kontras sangat. Bahkan saya rasa, saya dengan mudahnya ditemukan bila kalian melihatnya dari atas. Haha.

Tidak terasa sudah 3 tahun. Saya mensyukuri banyak perubahan baik yang terdapat di diri saya. Namun, ada beberapa pula yang saya masih harus belajar banyak. Seperti budaya bersalaman dengan lawan jenis, tidak melihat maka bila berbicara dengan lawan jenis, yah semuanya lah yang ada hubungannya dengan lawan jenis. 2/3 lingkungan saya didominasi oleh lawan jenis. Membatasi hubungan ini sangat sangat sulit, semoga diberi kekuatan dan keberanian untuk melakukan ini semua. Tanpa harus dijauhi, dianggap anti-sosial, maupun sombong.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s