multi ras, multi agama..

Itu saya.

Bukan saya secara personal yang multi ras dan multi agama, namun kalau boleh dikatakan, saya dibesarkan dalam lingkungan ini. Multi ras. Multi agama. banyak kepercayaan. Kalau dibilang culture shock, mungkin saya sudah mengalaminya sedari dulu. Haha.

Multi ras. Saya berdarah macam-macam. Ibu murni dari sunda. Namun dari Bapak, inilah “macam-macam” itu berasal. Bapak mempunyai darah gabungan dari Jawa-Cina. Masih punya keluarga jauh di Hongkong sana, dan konon katanya kakeknya Bapak adalah bule Amerika tulen yang bermata biru. Kakeknya Bapak ini migrasi ke Hongkong, dan menikah dengan wanita setempat. Setelah itu pergi ke Indonesia dan mempunyai anak laki-laki. Anak laki-laki ini ditugaskan untuk bekerja ke dataran Jawa, dan menikahlah ia dengan wanita Jawa yang masih peranakan juga. Setelah itu mereka pindah ke Jakarta dan memulai usaha.

Keluarga bapak masih fasih menggunakan bahasa Jawa dan Mandarin untuk komunikasi. Walaupun Bapak sendiri tidak bisa baca-tulis Mandarin tapi nyambung kalau diajak bicara. Multi ras, walaupun tidak banyak tapi saya bisa menyebutkan keluarga saya Cina-Indonesia-Amerika. Dengan keadaan seperti ini, maka budaya kami pun berbeda.

Multi agama. Oke setelah sebelumnya dibahas multi ras, dari keseluruhan ras tersebut, keluarga saya terdiri dari berbagai macam kepercayaan. Bapak saya Islam menikah dengan Ibu yang seluruh keluarganya beragama Islam. Kakek-nenek saya dari Bapak beragama Konghuchu. Saudara-saudara Bapak bervariasi, ada Kristen, Katolik, Budha, dll. Hal ini karena pada masa hidupnya, nenek saya dari Bapak tidak pernah mewajibkan anak-anaknya untuk memeluk satu agama. Ia hanya berkata,

Yakini agama, karena memang kamu yakin. Kaji terlebih dahulu. Jangan memaksakan agama kepada yang lain.

kurang lebih seperti itu. Dengan adanya keluarga ‘super’ seperti yang saya ceritakan ini, saya sekeluarga dibesarkan dengan lingkungan yang mempunyai toleransi tinggi dan lebih berpikir terlebih dahulu dalam memutuskan ini baik atau buruk. Tidak boleh menghakimi orang tanpa alasan yang jelas misalnya hanya karena dia beragama lain atau ras lain atau suku lain maka kita berhak berkata ia salah?

Saya dilahirkan di Ambon, Maluku. Dan sampai sekarang saya sebegitu inginnya kesana lagi. Menapak tilas daerah kelahiran saya. Daerah dimana agama dan suku menjadi penting. Daerah dimana dengan adanya agama dan suku kamu sudah dapat menentukan apakah kita teman atau lawan.

Saya tidak malu menceritakan ini semua. Semua orang punya lingkungan yang membentuknya menjadi pribadi saat ini. Dan ini lingkungan saya. Multi ras. Multi agama. Tapi kami sangat sangat menghormati satu dan lainnya. Sangat menghargai perbedaan. Tidak pernah memaksakan kehendak. Selalu mendengar pendapat dan berani untuk mengemukakan pendapat, karena kami ini masing-masing dibesarkan dalam lingkungan seperti ini. Sangat menyenangkan mengetahui pikiran dari orang yang kadang tidak sepikiran dan selingkungan.

Saya bangga mempunyai keluarga besar ‘super’. Seperti yang tadi telah dikatakan, saya mempunyai lingkungan multi agama. Artinya saya ikut serta dalam seluruh peringatan-peringatan keagamaan. Bagi-bagi angpao saat Imlek, saya dapat. Upacara cengbeng (gak tau nulisnya gimana) yang merupakan upacara khas orang konghuchu buat peringatan kematian yang kalau difilm-film digambarkan akan ada bakar-bakaran barang kertas berbentuk rumah, uang, mobil, dll yang diharapkan akan sampai ke si mayat di alam baka sana, saya ikut. Lebaran pastinya, seluruh saudara akan berkumpul dan kita sama-sama makan ketupat. Tidak berbeda jauh dengan Natalan.

Yang ingin saya katakan disini adalah, saya bangga dengan kekayaan ras dan agama yang saya punya. Ucapan “Merry Christmas and Happy New Year” nampaknya tidak akan berlebihan kan kalau diucapkan. Tidak akan membuat saya ‘less muslim‘ kok. Hanya sebagai penyambung tali silaturahmi. Biar bagaimanapun, mereka tetap saudara saya. Orang yang tidak akan segan membantu dan akan senantiasa berada di gardu terdepan bila saya dan keluarga mengalami kesulitan. Tetap saudara, setidaknya di dunia ini.

Jadi,

Merry Christmas and Happy New Year 2011 to all of you who celebrate it. May this ‘new year’ be a better year for us. More productive. More smiles, joys, laughs, etc. Live your life happily.

=)

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

3 thoughts on “multi ras, multi agama..

  1. Pingback: 3 tahun sudah « .:purplopherz:.

  2. wah,, bener2 culture shock :D
    bukannya Islam melarang kita meniru2 / menyerupai ibadah orang lain? *cmiw*
    menurut mbak.. apa sih yg dimaksud plurarisme dlm beragama?

  3. Hai Adi =)
    salam kenal
    haha, mungkin di dalam postingan ini terkesan saya meniru2/menyerupai ibadah orang lain/agama lain ya?
    sebenarnya maksudnya bukan demikian. hoho. adapun misalnya acara bagi2 angpao atau natalan itu saya anggap sebagai pengetahuan bahwa ternyata ada berbagai jenis orang di dunia ini. di keluarga ini, tetap prinsip adalah yang utama dan rasanya, agama sampai kapan pun dan di belahan dunia manapun tetap menjadi hal yang krusial namun tidak bisa diperdebatkan karena berkaitan dengan hal yang sangat mendasar, “siapa yang menciptakan kita”, prinsipil. Oleh karena itu, di keluarga ini tidak pernah sedikit pun ada pembicaraan atau diskusi tentang “kenapa kamu pilih agamamu?”, “apa kamu yakin ini yang paling benar?”, “bagaimana seharusnya agama yang baik?”, dan sebagainya. Kita percaya itu, bahwa ‘bagimu agamamu dan bagiku agamaku’, dan stop. Sudah sampai disitu. Hubungan ini juga hubungan horizontal. Berbuat baik terhadap sesama.
    seperti yang sudah ditulis sebelumnya:
    “Orang yang tidak akan segan membantu dan akan senantiasa berada di gardu terdepan bila saya dan keluarga mengalami kesulitan. Tetap saudara, setidaknya di dunia ini.”

    mengenai pluralisme. bisa jadi postingan sendiri kalau ditulis. haha. tapi saya rasa, Adi sendiri pun sudah mempunyai definisi mengenai pluralisme ya harusnya. cuma tolong dicek dan bedakan mengenai ‘pluralisme’ dan ‘pluralitas’. bedakan mengenai ‘anggapan bahwa semua agama itu sama’ dan ‘keberagaman’. coba juga mungkin bisa dilihat di al-Hujurat [49]: 13, Islam mengakui adanya banyak bangsa, suku, ras, bahkan agama. tapi tidak membenarkan (Imran [3]: 19)

    agak sulit sih memang untuk dimengerti. tapi kalau merasakan sendiri hidup dengan kondisi seperti ini dan di keluarga seperti ini, pasti mudah untuk mengerti.

    maaf kalau makin bingung ya,
    terima kasih sudah mampir =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s