si saya dan si adik

Menonton kembali team medical dragon,

saya jadi ingat pembicaraan saya dengan si adik.

Si saya yang dulu ingin jadi seorang dokter bedah jantung karena termotivasi melihat dokter yang ngebedah jantungnya ayah. Sosok yang begitu berwibawa, walaupun sangat hormat kepada ayah saya, karena ayah saya juga seorang dokter bedah. Bedah urologi. Mereka kolega katanya. Sejawat. Si saya dulu yang begitu inginnya menyelamatkan orang banyak secara jantung merupakan organ tunggal kompleks yang dapat memompa dan mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Organ kehidupan. Saya yang dulu mempelajari lebih awal anatomi tubuh manusia dan sering berdiskusi dengan bapak. Memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama setiap ada telepon masuk. Mendengarkan seluruh instruksi yang bapak berikan via telepon ke perawat maupun dokter jaganya. Istilah kateter, albumin, prostat, dan kawan2nya sangat tidak asing bagi si saya kecil.

Berbeda dengan si adik laki-laki saya yang dulu takut dengan darah, tidak tahan sakit dan melihat orang sakit, tidak tahan mendengar keluhan namun dia sendiri sering mengeluh, sering sakit-sakitan, tidak pernah sanggup untuk menonton film dengan adegan dimana terdapat orang mencoba bunuh diri, terlebih jika dilakukan dengan cara memotong nadi di pergelangan tangan. Si adik yang bahkan tidak bisa menghitung denyut nadinya sendiri pada pergelangan tangan. Dia bilang “ngilu”. Si adik yang begitu logis dan rasional serta senang memecahkan masalah, bahkan terkadang membuat masalah. Haha, kamu dimaafkan dim. Si adik yang dulu ingin menjadi seorang insinyur.

Lucu bila melihat kami sekarang.

Si saya yang dulu ingin menjadi dokter spesialis bedah jantung sekarang berkuliah di institut perteknikan yang diakui dan terkenal se Indonesia. Saya merubah mimpi dan mulai membuat cita-cita menjadi seorang insinyur. Mengambil jurusan teknik elektro dengan subjurusan biomedika. Masih berhubungan memang dengan kedokteran. Kamilah yang nantinya akan bekerja saya dengan para dokter untuk membantu menyembuhkan pasien dan mengembangkan teknologi-teknologi mutakhir.

Si adik yang dulu ingin menjadi seorang insinyur, saat ini nampak menikmati perkuliahannya sebagai calon dokter di universitas yang memang unggul di bagian kedokteran di Indonesia. Kalau boleh jujur, kamu terlalu menikmati dim. Haha. Sampai kadang mengobankan semuanya. Bahkan ulang tahun teteh aja kamu gak dateng karena alasan tugas. Hiks.

Suatu waktu, sebelum nasib kami bertukar seperti ini. Di saat kami menyaksikan Discovery Channel yang menampilkan tayangan transplantasi jantung, dia berkata :

Adik : Teh, liat deh. Itu yang teteh mau? Jadi dokter jantung? Trus ntar ngelakuin itu semua dong? Megang jantung gitu di tangan.

Saya : Iya, keren kan? Haha.

Adik : Kalau dokternya tiba-tiba gemes sama jantungnya trus diremes gimana teh? Itu kan kecil banget. Apalagi kalau bayi.

Saya : Ya jangan lah, ntar kan kalau jadi dokter pasti hati2 banget. Gak mungkin ada yang kayak gitu.

Adik : Trus kalau transplan gitu, kan jantungnya dioper. boleh gak sih diopernya dilempar kayak orang main basket? biar cepet gitu. Ntar teteh tereak “woi, tangkep!” *membayangkan ala basket.

Saya : *speechless* teteh mah cuma berharap bukan kamu dokternya. Gila aja punya dokter kayak gitu. Mati duluan pasti.

Teteh tahu kamu akan menjadi dokter yang baik dim. Dokter yang peduli dan penuh empati suatu saat nanti. Berdedikasi dan mempunyai integritas tinggi karena kamu berpikir semua opsi yang mungkin terjadi. Pikiran-pikiran gila. Haha. Ngebayangin kamu bicara gini :

Jika seorang yang menderita datang kepada kamu, berdiri di hadapan kamu, maka kamu wajib menolongnya. Menepis segala keraguan dan tidak melihat dari suku ras agama dsb. Orang sakit adalah pasien. Dan adalah tugas seorang dokter untuk menyelamatkan dan menyembuhkannya.

– Dr. Asada Ryutaro (Tim Medical Dragon)

bikin senyum-senyum sendiri. Sungguh.

Saya tidak berkata bahwa kami merubah mimpi kami, cita-cita kami. Tidak. Kami hanya mengalihkan mimpi-mimpi kami menjadi sesuatu yang kami rasa kami pantas didalamnya. Sesuai kapabilitas kami. Rasanya saya tidak sabar menunggu waktu dimana saya dan dia dapat bekerja bersama.

Dr. Toyama memang hebat. Namun, Dr. Asada lebih hebat. Dan kamu memang hanya dokter biasa. Sangat biasa. Tapi walaupun begitu, dokter biasa sepertimu pun punya kapasitas disini karena kita tim. Tanpa kamu operasi ini tidak bisa berjalan sukses. Yang ingin saya sampaikan disini adalah, setiap orang punya bagiannya masing-masing. Jangan memaksa diri terlalu jauh. Sadarilah kemampuan diri kamu dan jadilah yang terbaik dengan kapasitas dan kapabilitas yang kamu punya.

– tim medical dragon

Semangat terus ya dim! Ayo kita bikin rumah sakit yang keren. Yang bisa menolong orang banyak dan bekerja dengan landasan ikhlas dan berpegang teguh pada prinsip2 kemanusiaan dan etika. Gak ada yang gak mungkin kan?

Naive memang, tapi kalau bukan kita yang berpikir kayak gini siapa lagi? Negeri ini masih butuh pikiran-pikiran idealis macam ini. Selagi kita muda dan kita bisa, kenapa tidak?

It nearly is your 20th birthday. Happy early birthday to you my lovely brother! I think I can’t help for not writing about you today. Be a great surgeon! I know you will.


Love :)

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s