perjalanan hidup–01

Yak, disela-sela jadwal ujian yang sudah keluar. Dan mulai bingung harus belajar yang mana dulu. Disela-sela jadwal sidang para senior. Dan gelar ST-nya yang makin marak dipublish di media.

Dan makin kesini makin sering bertanya-tanya, dan ditanya :

“Kapan lulus?”

“Trus udah lulus mau jadi apa? Mau ngapain?”

“Itu passion kamu?”

Muncullah sebuah retorika, macem ‘mana duluan, telor atau ayam?’ :

Belajar untuk hidup?

atau

Hidup untuk belajar?

Menurut kalian yang mana? Ilmu tinggi untuk kehidupan yang lebih baik. Tapi semakin kesini saya malahan merasa semakin tidak tahu apa-apa, semakin sedikit yang saya tahu. Contohnya dengan subjurusan saya sekarang, Teknik Biomedika ITB yang merupakan perpanjangan tangan dari Teknik Elektro ITB. Di jurusan ini dipelajari bagaimana tubuh manusia dianalogikan sebagai sebuah sistem, dan si sistem ini bukan single-body tapi multi-body *multi-nya sebanyak itu tapinya*. Haha. Tapi nilai positifnya, semakin saya diingatkan untuk selalu bersyukur di setiap kuliah saya. Oke, mari kita bahas perkuliahan di lain waktu. :D

Passion. Kata hati. Panggilan jiwa. Atau apapun itu namanya, sering kali dijadikan parameter dan yang disalahkan ketika hasil yang didapat tidak sesuai dengan harapan. Misal :

“Kenapa belom lulus?”–“Abisnya gak suka dengan kuliahnya, bukan passion saya”.

Kadang saya juga. Haha. Memang pelajarannya susah. Tapi kalau dipikir2 lagi, kalau gak susah gak belajar. Kalau gak ada ujian, gak naik tingkat. Sama kayak ujian dalam hidup.

Balik lagi ke hidup untuk belajar atau belajar untuk hidup. Saya rasa gak ada yang duluan. Hidup memang untuk belajar, karena setiap jengkal kehidupan kita adalah pelajaran. Dan apa yang kita pelajari pasti akan berguna dalam kehidupan. Cuma sekarang gimana caranya agar semuanya ‘berasa’ pelajarannya. Dari mulai kita bicara sama orang tiap hari, cara bicara kita pasti berkembang. Sampai ikut kepanitiaan dan organisasi, jadi paham bagaimana harus bertindak dan bereaksi secara spontan. Dan menurut saya, tidak ada kata ‘expert’ dalam hidup. Tidak ada yang ahli. Semua masih dalam proses berkembang karena itulah hidup.

Yang saya yakini sampai sekarang, menjadi orang pintar dan cerdas akan meningkatkan kualitas hidup. Minimal bisa hidup dengan layak.

Jadiiii, kapan saya lulus? :D :D :D

~p.r.p.l.p.h.r.z @HME

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s