Mengingat Kembali Kepingan-Kepingan Hidup

Itu status YM saya hari ini. Jadi apa yang saya lakukan dengan mengingat-kembali-kepingan-kepingan-hidup ini?

Dari dulu saya tipe orang yang begitu menghargai waktu luang, senang mencoret-coret buku dengan tulisan atau gambar apapun. Lebih senang menulis daripada berbicara (walau sekarang nampaknya kebutuhan berbicara lebih sering digunakan). Sekarangpun, ketika waktu luang ini menjadi sangat sedikit, selalu disempat2kan untuk menulis. Dimana pun.

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer :

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Saya percaya itu. Sejarah hanya akan berbicara jika terdapat bukti. Lihat saja apa yang terjadi pada Anne Frank atau R.A Kartini, bagaimana tulisan-tulisan menjadi saksi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan. Haha, walaupun saya gak segitu kebayangnya tulisan saya bisa sampai kayak mereka. Yang mau ditekankan disini adalah menulis itu menurut saya bukti ekspresi nyata, bukti eksistensi dasar dari seseorang. Bahkan ada psikologi khusus yang membahas tentang kepribadian orang dari tulisan tangannya.

Karena dari jaman SD saya sering mencoret-coret buku — bukan menulis, saya punya buku yang khusus diperuntukkan untuk kegiatan-kegiatan selain sekolah. Kegiatan mencorat-coret-buku-gak-penting, kata saya dulu. Buku itu dikumpulkan. Selalu gak tega buat ngebuangnya atau melepas kertasnya. Tiap gambar ada maknanya dan mengingatkan terhadap hal-hal kecil. Jumlah buku yang terkumpul sekitar 10 buku. Yang lainnya entah keselip dimana. Buku ini menjadi penting sekarang, setidaknya penting untuk saya =)

Pengembangan diri itu ada. Dan memang bisa dilihat dari tulisan dan cara bercerita orang. Pemikiran. Bahasa. Gaya penulisan. Membuat tertawa ketika ingat peristiwa lucu, membuat sedih kalau ingat yang sedih, menyesal, merasa bodoh dan segitu labilnya ternyata saya dulu saat baca cerita itu. Merasa bahwa diri ini tumbuh, baik secara intelektual maupun emosional. Menertawakan diri itu perlu. Supaya kita tidak berlarut-larut dalam apa yang disebut penyesalan dan merasa tidak berarti. Seenggaknya kita bisa membuat diri tertawa pada akhirnya dan berpikir :

Kita telah melewati fasa itu. Kita sukses melewati masalah itu. Problems will always come, won’t they? Semua yang terjadi akan membuat kita dapat lebih dewasa menyikapinya.

Dan yang paling penting, merasa bahwa kita HIDUP. Diri ini ada dan sampai kapanpun akan mengalami perkembangan. Saya percaya, dengan ini akan membuat hidup kita lebih berarti. =)

“Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua” — Pramoedya Ananta Toer

Senang mengingat kembali kepingan-kepingan hidup ini. Saya percaya bahwa ini  pasti akan selalu ada dalam ingatan, hanya saja ada bukti otentiknya yang dapat dibaca dan diingat setiap saat rasanya lebih menyenangkan ^^

~p.r.p.l.p.h.r.z @my room, 21.55

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s