[BOOK] Gading Gading Ganesha

cover-gading

Hari Senin,  22 Juni 2009 yang lalu saya di sms bahwa akan ada bedah buku Gading Gading Ganesha beserta pagelaran wayang kreatif dari Sujiwo Tejo. Gratis. Saya blm tahu apa itu buku Gading Gading Ganesha. Tapi karena penasaran karena judulnya yang “wah” menurut saya juga karena ‘katanya bagus’ akhirnya datang juga.

Bedah bukunya sendiri dihadiri oleh 5 orang yaitu si pengarang (Dr. Dermawan Wibisono), produser film, Nurul Arifin, moderator, serta MWA Wakil Mahasiswa 09-10 sebagai perwakilan dari pihak mahasiswa (Benny Nafariza). Acara ini sukses membuat saya penasaran sama isi bukunya.

Gading Gading Ganesha ini diterbitkan dalam rangka penutupan rangkaian acara Dies EMAS Natalis ITB yang sudah berlangsung dari awal tahun 2009. Penulis buku ini dalam prosesnya tidak bekerja sendirian. Mengambil setting ITB jaman 80an beserta karakteristik mahasiswa dan romantika di dalamnya membuat penulis mencari tahu dan meminta bantuan dari alumni, civitas akademika, bahkan dari luar ITB sekalipun supaya dapat dicermati dan dikritisi dari kacamata publik non-ITB.

Jadi, bercerita tentang apakah novel ini?

Novel ini bercerita tentang 6 orang anak manusia dari masing-masing daerah. Slamet dari Trenggalek, Poltak dari Pematang Siantar, Ria dari Padang, Benny dari Jakarta, Gun Gun dari Ciamis dan Fuad dari Surabaya. Dengan latar belakang ekonomi dan keluarga berbeda namun tetap berjuang bersama dengan menjunjung idealisme yang dari tahun ke tahun diyakini sebagai karakter dari mahasiwa mahasiwi ITB.

Di dalam novel ini juga dijelaskan sejarah ITB dan kemahasiswaan yang dapat mengingatkan kita sekali lagi sebagai mahasiswa ITB khususnya ataupun masyarakat Indonesia pada umumnya tentang apa tujuan dan hakikat dari mahasiswa. Ada cerita jaman 1978 dimana saat itu kampus diduduki oleh tentara. Cerita ini diambil dari catatan harian mahasiswa ITB angkatan 1977. Dimana saat itu pula belum ada yang namanya himpunan. Yang ada hanya unit-unit yang sesuai dengan minat mahasiswa serta kemahasiswaan terpusat. Cerita didalamnya membuat kita, mahasiswa ITB saat ini, percaya dengan apa yang terjadi saat itu. Cerita yang biasanya hanya kita dengar sekilas lalu kemudian dilupakan karena terlena akan kenyamanan yang diberikan ITB saat ini.

Tokoh dalam novel ini, Fuad misalnya, pernah masuk penjara akibat berpidato dengan gaya, suara, intonasi mengikuti tokoh terkemuka pada jamannya. Dan akhirnya ia menyimpulkan bahwa “Kita yang murni bertindak karena nurani, tanpa backing yang kuat secara jaringan sosial maupun finansial hanya akan menjadi kambing hitam”. Kemudian Gun Gun bertanya tentang apa yang seharusnya dilakukan. Dan Slamet kemudian menyimpulkan “Kembali ke bangku kuliah, belajar dengan tekun, selesai secepatnya, dan ciptakan lapangan kerja atau berikan kontribusi kita melalui karya nyata. Kita tidak menyusahkan orang tua dan terutama tidak membuang nyawa untuk sesuatu yang absurd.”

Di buku ini juga disampaikan mengenai guyonan jaman dulu (dan masih berlangsung sampai sekarang). Dimana katanya terdapat 3 karakteristik anak ITB. Yang tinggi sekali IPnya akan menjadi dosen, yang sedang-sedang saja akan menjadi tenaga profesional dan bekerja dengan orang lain, sedangkan yang IPnya di bawah rata2 bahkan drop-out akan menjadi pengusaha. Ternyata emang udah ada dari dulu kalimat2 ini. Hahaha.

Dari websitenya, terdapat pesan-pesan moral yang ingin disampaikan dari novel yang sebentar lagi akan menjadi film ini. Filmnya disutradarai oleh Sujiwo Tejo yang pernah mengenyam pendidikan formal di Matematika ITB (1980-1985) dan T. Sipil ITB (1981-1988) juga sebagai aktivis kampus pada saat itu.

Pesan moral yang ingin disampaikan adalah :

  1. Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mengubahnya sendiri
  2. Kaum muda dan kelas menengah memilki potensi yang dahsyat untuk menjadi agen perubahan bagi peningkatan daya saing bangsa.
  3. Pada suatu titik, manusia tidak lagi dinilai dari apa yang dia miliki tetapi apa yang dia kontribusikan kepada sesamanya dan bagaimana menjadi rahmatan lil alamin
  4. Bangsa yang berkarakter lah yang akhirnya akan mampu bersaing.
  5. Pendidikan yang menyeimbangkan aspek intelektualitas, emotional dan spiritual lah yang pada akhirnya akan melahirkan manusia unggul.

Intinya, buku ini bermanfaat untuk dibaca bagi seluruh civitas akademika ITB, para alumni yang mungkin ingin bernostalgia terhadap almamaternya, maupun pihak2 luar ITB yang ingin mengetahui ITB lebih jauh serta karakteristik orang-orang didalamnya. Walaupun mungkin tidak akan begitu valid untuk jaman sekarang =)

Well, happy reading then..

Cheers.. ^^

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

7 thoughts on “[BOOK] Gading Gading Ganesha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s